Perang Dagang Tak Pengaruhi Ekspor Indonesia ke Amerika dan Cina

TEMPO.CO, Jakarta – Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tahun 2018 ternyata belum terpengaruh akibat adanya perang dagang yang cukup serius antara Amerika Serikat dan Cina. Dari data Badan Pusat Statistik, ekspor produk-produk Indonesia untuk kedua negara ini masih mencatat kinerja yang positif. 

“Meski ada perang dagang, ekspor ke Amerika dan Cina masih tetap tumbuh,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto di kantornya di Jakarta Pusat, Senin, 25 Mei 2018. Ekspor Indonesia untuk kedua negara saat ini masih didominasi produk nonmigas, yang juga memegang peran penting di keseluruhan ekspor Indonesia dengan kontribusi 90,86 persen.

Simak: Peluang dan Ancaman Perang Dagang AS untuk Indonesia

Menurut Suhariyanto, ekspor nonmigas Indonesia ke Cina selama Januari hingga Mei 2018 tercatat mencapai US$ 10,25 miliar atau tumbuh 31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya US$ 7,8 miliar. Sementara dalam rentang waktu yang sama, ekspor nonmigas ke Amerika tumbuh tipis 3,6 persen, dari US$ 7,17 miliar menjadi US$ 7,43 miliar.

Secara keseluruhan, akumulasi nilai ekspor Indonesia Januari hingga Mei 2018 mencapai US$ 74,93 miliar atau tumbuh 9,65 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 68,34 miliar. Sementara nilai ekspor Mei 2018 juga 10,90 persen yaitu sekitar US$ 16,12 miliar. “Jadi kami melihat ekspor bulan Mei ini cukup mengembirakan,” ujarnya.

Baca: Perang Dagang Amerika Cina, Indonesia Bisa Lirik Partner Lain

Sebelumnya, perang dagang telah meletus antara Amerika dan Cina. Kondisi semakin memanas ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor 800 produk asal Cina dengan total nilai US$ 50 miliar terhitung mulai tanggal 6 Juli, termasuk produk otomotif, pada Jumat lalu. Cina pun bersiap menanggapi dengan akan mengenakan tarif impor pada 659 produk asal Amerika, mulai dari kedelai dan mobil hingga makanan laut.

Perdagangan Indonesia dengan Amerika dan Cina memang memiliki posisi yang cukup penting. Sebab, keduanya merupakan negara pangsa ekspor nonmigas terbesar bagi Indonesia pada Januari hingga Mei 2018, masing-masing 10,91 persen dan 15,05 persen. “Belum ada perubahan, pangsa ekspor.

Baca: Perang Dagang Amerika Serikat-Cina, JK: Berbahaya bagi Dunia

Meski begitu, kata Suhariyanto, secara keseluruhan selama Januari-Mei 2018, posisi Indonesia dengan kedua negara memang belum seimbang. Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan dengan Cina sebesar US$ 8,1 miliar. Sebaliknya, neraca perdagangan dengan Amerika masih surplus sebesar US$ 3,5 miliar.

Comments
Loading...