Terjatuh saat Berfoto di Prancis, Konglomerat Cina Tewas

TEMPO.CO, Prancis– Konglomerat HNA Group asal Cina, komisaris Wang Jian, meninggal saat terjatuh saat berdiri di atas sebuah dinding ketika berfoto di sebuah desa wisata di Prancis dalam perjalanan bisnis pada 3 Juli 2018.  

“Dia berdiri tepat di tepi dinding untuk mengambil sebuah foto dirinya mengakibatkan dia terjatuh,” kata Letnan Kolonel Hubert Meriaux dari pasukan senjata Vaucluse kepada Reuters, Rabu, 4 Juli 2018.

Baca: 

Cara Rumah Sakit di Cina Tipu Ratusan Pasien via WeChat

Cina Punya Senjata Laser Mirip di Film Star Wars

Wang Jian jatuh dari dinding setinggi 15 meter di desa Bonnieux, dekat Avignon yang merupakan daerah indah dan populer serta sering dikunjungi turis. Saat itu, CNN melansir, Jian sedang mengunjungi sebuah gereja. 

Wang Jian memegang 15 persen saham di HNA. Grup usaha ini dikendalikan oleh sebuah yayasan berbasis di New York dan sebuah yayasan badan amal di China, yang total kepemilikan saham keduanya di HNA mencapai 52 persen.

Gedung milik HNA Group.

HNA Group memiliki perusahaan Hainan Airlines, yang merupakan maskapai penerbangan keempat terbesar di Cina. HNA Group masuk dalam urutan 170 kelompok usaha terbesar dari Fortune 500 sejak berdiri 20 tahun lalu.

Baca: 

Cina Umumkan Travel Warning ke Amerika Serikat, Ada Apa?

Cina Bersiap, Amerika Serikat Terapkan Tarif Impor pada 6 Juli

Para pemegang saham telah berjanji jika mereka meninggalkan perusahaan atau mati, mereka akan mengalihkan ke dana amal di New York, menurut sebuah dokumen yang dilihat Reuters. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan tentang peralihan dana tersebut.

“Kematian Wang terjadi pada saat yang sangat tidak tepat. Rencana itu mungkin akan ditinjau kembali bersama tim manajemen,” kata Brock Silvers pendiri dan direktur pelaksana Kaiyuan Capital perusahaan pensihat investasi yang berbasis di Sanghai.

Wang Jian, 57 tahun, bertanggung jawab atas strategi HNA dan menjalankan operasi sehari-hari. Dia dianggap sebagai arsitek akuisisi senilai US$50 miliar atau Rp720 triliun. Ini membuat HNA Group memiliki saham di Deutsche Bank AG hingga sejumlah kepemilikan properti premium di luar negeri.

Di bawah tekanan dari pemerintah Cina, HNA telah menjual banyak asset untuk memangkas utang yang muncul untuk membiayai akuisisi yang agresif tadi.

Kematiannya ini mempersulit upaya konglomerasi ini untuk memperbaiki dan melunasi pinjaman. Ini membuat HNA Group mendapatkan tekanan lebih dari sebelumnya.

Wang mengatakan kepada karyawan pada awal tahun ini bahwa kesulitan yang dialami perusahaan merupakan hasil dari “Konspirasi Besar” terhadap Partai Komunis Cina, yang berkuasa,dan Presiden Xi Jinping oleh pasukan reaksioner baik asing maupun domestik. Wang mengirim informasi ini lewat email, yang kemudian diperoleh Reuters dari sumber terpercaya.

Belakangan, HNA Group tampaknya telah mendapatkan dukungan dari bank sentral Cina terkait penjualan obligasinya. Bank sentral disebut-sebut meminta investor untuk membeli obligasi itu.  

REUTERS l  MUH.BASKHORO W.D.

Comments
Loading...