Deradikalisasi Kembali Dikritisi

Ilustrasi. Medcom.id/Rakhmat Riyandi.

Jakarta: Pengamat terorisme Ridlwan Habib menilai program deradikalisasi narapidana terorisme belum optimal. Lembaga pemasyarakatan (Lapas) justru seolah menjadi tempat suburnya radikalisme.

“Contohnya saat di lapas Cipinang terpengaruh, dan malah di dalam lapas itu menjadi bahasa mereka sendiri, menjadi madrasah jihad di dalam lapas,” kata Ridlwan di Primetime Metro TV, Jumat, 6 Juli 2018.

Menurut Ridlwan, pengawasan eks narapidana teroris mestinya lebih intensif dilakukan. Hal itu guna menghindari potensi kembalinya radikalisme pada diri mantan narapidana. 

Ridlwan menduga, kondisi ini terjadi lantaran masih ada tumpang tindih tanggung jawab deradikalisasi. Dia menyebut belum ada regulasi yang jelas soal penanggung jawab deradikalisasi. 

"Apakah Densus 88, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), atau pemerintah daerah setempat," ujarnya.

“Misalnya, ada napi keluar dari lapas kemudian tiga bulan pertama tanggung jawabnya misalnya polisi. Tiga bulan berikutnya polisi di wilayah dia tinggal, dan itu yang harus diatur,” tambah Ridlwan.

Memang, anggapan ini tidak bisa dipukul rata. Sebab, ada pula residivis terorisme yang sadar dan kembali hidup normal di tengah masyarakat usai bebas dari penjara.

Comments
Loading...