Guru dan Orang Tua Siswa Kukuh Pertahankan PAUD di Rusun Bidara Cina

PAUD Melati Putih di Rusun Bidaracina, Jakarta Timur. (Foto: Medcom.id/Muhammad Al Hasan).

Jakarta: Guru dan orang tua siswa menentang 'penggusuran' sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) Melati Putih. Sekolah yang dibangun secara sosial di Rusun Bidaracina, Jakarta Timur itu bakal dialihfungsikan menjadi sekretariat Karang Taruna.

"Tidak bisa mas, buat apa harus dihapuskan? Kan bisa digabung," teguh pengajar PAUD Melati Putih, Rieke, kepada Medcom.id di Rusun Bidaracina, Jakarta Timur, Rabu, 27 Juni 2018.

Erna, 32, juga senada. Meski bukan warga asli Rusun Bidaracina, Erna tak setuju bila PAUD dialihfungsikan oleh Ketua RW 16. Bahkan dia berencana menyekolahkan anaknya di sana.

"Saya yang bukan asli warga rusun pun tertarik menyekolahkan anak di sini. Menurut saya di sini tuh terbaik ngajarnya," beber dia.

Menurut salah satu orang tua siswa, Mey, PAUD Melati Putih terus mengalami perbaikan, baik dari sisi pendidikan maupun sarana dan prasarana. Mey tak setuju bila PAUD yang terletak di lantai dasar Blok B1 Rusun Bidaracina itu dihapuskan. Ia lebih rela bila PAUD digabung dengan sekretariat Karang Taruna.

"Dulu sebelum diambil alih Bu Deasy, ini tuh enggak layak banget ruangannya. Lantai belum dikarpetin, banyak nyamuk dan genangan air, beda lah. Sayang banget kalau harus dihilangkan," ketus Mey.

Baca juga: Perjuangan Warga Mempertahankan PAUD di Rusun Bidaracina

Pada awalnya, pengelola Yayasan Melati Putih, Deasy Ratna Kusuma diminta mengosongkan ruangan per 30 Juni 2018. Ruangan PAUD itu akan dijadikan sekretariat Karang Taruna demi kepentingan sosial kemasyarakatan warga rusun.

Deasy tegas menolak. Dia merasa heran dengan sikap RW yang menurutnya janggal. Alasan RW dianggap tidak logis dan cenderung menyimpan maksud tertentu.

"Saya bisa saja mengalah, tapi kan ini semata-mata bukan urusan uang. Saya jujur tidak mencari profit di sini."

PAUD Melati Putih hanya membebankan biaya pendidikan setiap anak didik sebesar Rp50 ribu per bulan. Memiliki 25 anak didik, jumlah iuran bulanan itu dianggap hanya cukup membayar gaji pengajar.

"Soal kebutuhan lain saya yang tutupi pakai dana pribadi," ujar Deasy .

Meski demikian, Deasy manut bila harus digusur. Namun dia meminta pengurus RW untuk menyediakan tempat baru dan memberi kompensasi.

Comments
Loading...